Blog

  • Satu Hari di Bulan Desember

    Satu Hari di Bulan Desember

    Desember telah tiba..
    waktunya menghias pohon..
    membungkus kado..
    berbelanja pakaian-pakaian baru..
    merangkai kata-kata indah sebagai ucapan..
    menyiapkan makanan-makanan lezat..
    berpakaian ala Sinterklas..
    dengan bulu-bulu putih pada sebuah topi merah..

    Semua demi menyambut satu hari di bulan Desember..
    yang tidak pernah dilupakan..
    yang setiap tahun selalu dirayakan..
    yang selalu menjadi bagian dalam hidup..
    yang selalu menemani kita melewati pergantian tahun..
    sebagai hari yang dikatakan penuh sukacita..
    sebagai hari yang dikatakan penuh harapan..
    sebagai hari yang sering kita lewati..
    tanpa menyadari maknanya..
    tanpa peduli mengapa kita merayakannya..

    hari kelahiran Sang Juru Selamat..
    hari kelahiran Sang Raja Damai..

    Words by Arman Wu
    Photo by erin walker on Unsplash

  • Menebar Damai

    Menebar Damai

    Matahari terang memancar..
    Tampaklah cerah alam sekitar..
    Tiada elok bila hati bermuram..
    Mari sapa saling bersalam..
    Hari berlalu takkan berulang..
    Hingga petang datang menjelang..

    Bulan bintang lalu bersinar..
    Tampaklah cerah tiada pudar..
    Benderang di hari malam..
    Tampak kemilau di antara kelam..
    Menghias alam di malam panjang..
    Gemerlap hingga pagi kembali datang..

    Waktu akanlah terus berputar..
    Hingga akhir kita abadi terpejam..
    Apa yang lalu tiada pernah terulang..

    Sejuk bila kebaikan lepas tersebar..
    Tepancar senyum sang pencipta alam..
    Tanpa lelah senandung damai berdendang..

    Words by Arman Wu
    Photo by Dmitry Sovyak on Unsplash

  • Daun Kering

    Daun Kering

    Daun yang layu tak lama terbuang..
    melepas diri dari dahan yang menopang..
    terhembus angin dan melayang..
    jatuh takkan jauh dari asal batang..
    tak lama pun terinjak orang..
    rapuh dan kering tak berbayang..
    akankah kembali berkembang?

    Ada kalanya diri ini menang..
    ada waktunya terhilang..
    mungkin tidak tapi mungkin terulang..
    hingga saatnya tiba untuk berpulang..
    siapakah dapat menerawang?

    Itu sebab kesombongan tak perlu datang..
    adalah mustahil menambal kayu berlubang..
    kata maaf pun seringkali tak dipandang..

    Words by Arman Wu
    Photo by Glenn Carstens-Peters on Unsplash

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai